Esai pendamping · 1 dari 4
Membaca kinerja emiten rumah sakit: tempat tidur, okupansi, dan porsi pasien JKN
Laporan rumah sakit memuat angka yang tidak ada di laporan pabrik biskuit: tempat tidur, hari rawat, kunjungan. Esai ini menerjemahkan angka-angka itu menjadi pertanyaan yang bisa dijawab sendiri.

Mengapa rumah sakit perlu dibaca dengan kacamata lain
Pabrik menjual barang yang bisa ditimbun di gudang. Rumah sakit menjual kapasitas yang hangus setiap malam: tempat tidur yang kosong hari ini tidak bisa dijual besok. Karena itu, ukuran kinerja rumah sakit berputar di sekitar seberapa penuh kapasitas terpakai, berapa lama pasien tinggal, dan berapa rupiah yang dihasilkan setiap kunjungan.
Angka-angka ini biasanya muncul di bagian analisis dan pembahasan manajemen dalam laporan tahunan, bukan di neraca atau laporan laba rugi. Emiten seperti HEAL menyajikan sebagian data operasional di sana, walau rinciannya bisa berbeda dari satu emiten ke emiten lain.
Tempat tidur: kapasitas terpasang dan kapasitas yang benar-benar dipakai
Jumlah rumah sakit terdengar mengesankan, tetapi jumlah tempat tidur lebih jujur menggambarkan skala. Dua rumah sakit bisa berbeda kapasitas tiga kali lipat. Perhatikan juga istilah yang dipakai: ada laporan yang memisahkan kapasitas terpasang (secara fisik tersedia) dan kapasitas operasional (siap menerima pasien dengan tenaga yang cukup).
Rumah sakit baru hampir selalu memulai dengan okupansi rendah. Dokter spesialis perlu direkrut, kerja sama dengan asuransi dan BPJS Kesehatan perlu diurus, dan warga sekitar butuh waktu untuk percaya. Selama masa itu, biaya gedung, alat, dan gaji sudah berjalan penuh.
Okupansi dan lama rawat: dua rumus sederhana
Tingkat hunian tempat tidur, sering disingkat BOR (bed occupancy rate), menjawab pertanyaan: dari seluruh malam tempat tidur yang tersedia, berapa persen terisi pasien?
BOR = hari rawat inap ÷ (jumlah tempat tidur × jumlah hari dalam periode) × 100%
Contoh rekaan: sebuah rumah sakit memiliki 200 tempat tidur. Dalam satu kuartal berisi 91 hari, kapasitasnya 18.200 malam-tempat tidur. Bila tercatat 12.740 hari rawat inap, BOR-nya 70%.
Rata-rata lama rawat, atau ALOS (average length of stay), dihitung dari hari rawat inap dibagi jumlah pasien keluar. Dengan 12.740 hari rawat dan 3.185 pasien keluar, ALOS-nya 4 hari. ALOS yang memendek belum tentu kabar buruk: pasien yang pulang lebih cepat membuka tempat tidur untuk pasien berikutnya, dan pada skema pembayaran paket, hari rawat yang lebih pendek dapat menekan biaya per kasus.
| Indikator | Cara menghitung | Pertanyaan yang dijawab |
|---|---|---|
| Jumlah tempat tidur | Dilaporkan manajemen | Seberapa besar kapasitas yang bisa dijual? |
| BOR | Hari rawat ÷ (tempat tidur × hari) | Seberapa penuh kapasitas itu terpakai? |
| ALOS | Hari rawat ÷ pasien keluar | Berapa lama rata-rata pasien menginap? |
| Pendapatan per pasien | Pendapatan segmen ÷ jumlah pasien atau kunjungan | Berapa rupiah per layanan? |
| Kunjungan rawat jalan | Dilaporkan manajemen | Seberapa ramai poliklinik sebagai pintu masuk? |
Pasien JKN dan non-JKN: volume versus rupiah per pasien
Program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS Kesehatan membawa arus pasien yang besar dan relatif stabil. Untuk rawat inap di rumah sakit rujukan, pembayarannya memakai tarif paket berbasis kelompok diagnosis (INA-CBG). Artinya, rumah sakit dibayar per kasus, bukan per hari atau per tindakan. Jika biaya nyata merawat pasien melebihi paket, selisihnya ditanggung rumah sakit.
Pasien non-JKN, yang membayar sendiri atau memakai asuransi swasta dan asuransi perusahaan, cenderung menghasilkan pendapatan per pasien lebih tinggi, tetapi jumlahnya lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi. Karena itu investor biasanya ingin tahu bauran keduanya. Sebagian emiten menyebutkan porsi pendapatan atau porsi pasien JKN dalam presentasi publik; bila tidak ada, jangan menebak.
Piutang: jejak waktu tunggu pembayaran
Klaim JKN dibayar setelah melalui proses verifikasi, sehingga sebagian pendapatan tertahan sebagai piutang. Bandingkan pertumbuhan piutang usaha dengan pertumbuhan pendapatan. Bila piutang tumbuh jauh lebih cepat, kas yang benar-benar masuk tertinggal dari laba yang dilaporkan.
Biaya yang bergerak dan biaya yang diam
Sebagian biaya rumah sakit hampir tetap: gedung, penyusutan alat, gaji perawat tetap. Sebagian lagi bergerak mengikuti volume: obat, bahan habis pakai, jasa dokter yang dibayar per tindakan. Struktur ini membuat laba rumah sakit sangat peka terhadap okupansi. Kenaikan BOR dari 60% ke 70% bisa menaikkan laba jauh lebih besar dari 10 poin persen, karena biaya tetapnya sudah tertutup lebih dulu. Sebaliknya, turunnya okupansi cepat menggerus laba.
Daftar periksa sebelum menyimpulkan
- Apakah jumlah tempat tidur yang dipakai untuk menghitung BOR sama dari tahun ke tahun?
- Berapa rumah sakit yang masih berumur di bawah tiga tahun dalam jaringan?
- Adakah keterangan bauran pasien JKN dan non-JKN, dan dari dokumen mana?
- Bagaimana pertumbuhan piutang dibanding pendapatan?
- Berapa belanja modal yang direncanakan untuk tahun depan?
Dengan lima pertanyaan itu, laporan rumah sakit yang tebal bisa dibaca dalam satu sore. Hasilnya bukan jawaban layak-beli atau tidak, melainkan pemahaman tentang apa yang menggerakkan angka.